EKSPANSI UMAT ISLAM DI SPANYOL, Lengkap!


Dalam belajar sejarah islam ini saya akan menjelaskan tentang ekspansi umat islam di syanyol dan merupakan kelanjutan dari pembahasan tentang ajaran dalam aliran syiah. dan tentunya sebagai pembelajaran politik bagi anda yang gemar akan keilmuan pengembangan wilayah, maka selanjutnya artikel ekspansi umat islam di spanyol sebagai berikut
Dinamika politik umat Islam di Spanyol setidaknya ditandai dengan tiga fase. Pertama, penaklukan Spanyol di bawah komando Thoriq bin Ziyad. Kedua, konsolidasi kekuasaan Islam di Spanyol menjadi Dinasti Umayyah yang berawal dari Abdurrahman I. Ketiga, persaingan dan perebutan kekuasaan antara kerajaan kecil sampai runtuhnya kekuasaan umat Islam di Spanyol.
Membaca ekspansi umat Islam di Spanyol bermula dari misi Thoriq bin Ziyad. Thoriq bin Ziyad mendapat perintah dari Gubernur Afrika Utara Musa bin Nusair. Sebelum Thoriq mendarat di Spanyol, seorang mata-mata yang bernama hampir sama dengan Thoriq yaitu Thorif telah diutus untuk memetakan semenanjung Iberia. Yang pertama pangkat militernya lebih rendah dari yang kedua. Yang pertama tidak jelas asal usul klannya. Yang kedua adalah anak keturunan suku As Shodaf, suku Berber dari daerah Al Atlas Afrika Utara. Ada yang mengatakan bekas budak yang telah dibebaskan. Memimpin 7000 pasukan, Tahoriq menyeberangi selat Gibraltar untuk mengekspansi Spanyol yang berada dalam kekuasaan Roderik. [1]
Begitu Thoriq dan pasukannya menyeberang, sebelum terjadi peperangan, konon ia memerintahkan agar kapal-kapalnya dibakar. Ia lalu berdiri di hadapan pasukannya dan menyampaikan khotbah. Sebuah khotbah yang mashur. Tentang pembakaran kapal itu tidak semua sejarawan sepakat. Ada yang mengatakan itu cerita yang dibuat-buat sejarawan Kristen.[2]  Namun, tentang khotbah Thoriq semua sepakat. Ia memang menyampaikan khotbah yang membakar, agitatif dan inspiratif itu. Khotbah yang terjemahannya dalam bahasa Inggris didaftar oleh Susan McIntire dan William Burn dalam  buku  Speeches of World History. dan begitulah ekspansi umat silam di spanyol. ini tekx arab dalam pidato torik bin ziad



selanjutnya, Untuk kepentingan pembelajaran, agaknya khotbah dalam bahasa Arab itu telah diedit. Ada bagian yang sengaja dihilangkan. Khotbah yang dinukil itu dalam bahasa Arab tidak menyinggung wanita-wanita cantik Spanyol keturunan Yunani. Padahal, dalam versi terjemahan bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia yang ditemukan ada paragraf khutbah yang mendeskripsikan kecantikan wanita-wanita bangsawan Spanyol tersebut.
"Remember that if you suffer a few moments in patience, you will afterward enjoy supreme delight. Do not imagine that your fate can be separated from mine, and rest assured that if you fall, I shall perish with you, or avenge you. You have heard that in this country there are a large number of ravishingly beautiful Greek maidens, their graceful forms are draped in sumptuous gowns on which gleam pearls, coral, and purest gold, and they live in the palaces of royal kings. The Commander of True Believers, Alwalid, son of Abdalmelik, has chosen you for this attack from among all his Arab warriors; and he promises that you shall become his comrades and shall hold the rank of kings in this country. Such is his confidence in your intrepidity. The one fruit which he desires to obtain from your bravery is that the word of God shall be exalted in this country, and that the true religion shall be established here. The spoils will belong to yourselves.”[4]

Kalimat yang bergaris bawah itu jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah:
Mungkin kalian telah mengetahui tentang wanita-wanita cantik yang tumbuh dan lahir di pulau ini, yang berasal dari keturunan Yunani, perhiasan-perhiasan yang terbuat dari emas murni, serta wanita-wanita pingitan yang tinggal di dalam istana-istana yang bermahkota.[5]

kehancuran pasukan roderik terhadap ekspansi umat islam di spanyol

Sejarah mengabarkan bahwa pasukan Thariq mampu mengalahkan pasukan Roderik secara telak. Roderik sendiri awalnya seorang petinggi militer, tetapi ia mengkudeta putra Raja Witiza dan memakzulkannya. Salah satu perilaku keji Roderik yang telah menjadi legenda dan bumbu dalam penulisan kronik sejarah, adalah menodai putri Watiza, yaitu Florinda yang jelita. Maka Roderiklah yang menjadi pucuk pimpinan menguasai Gotik (Visigoth). Sejak kekalahan Roderik di Lembah Berbate, praktis umat Islam adalah penguasa baru bumi Andalusia. Pasukan Islam terus merambah kekuasaan, melaju ke wilayah-wilayah yang lebih jauh ke utara nyaris tanpa perlawanan.
Namun yang perlu dicatat, kemenangan umat Islam tidak lepas dari bantuan pribumi lawan politik Roderik. Pangeran Julian dari Sabtah ikut membantu Thoriq. Ia bahkan yang memberi bantuan armada kapal pada Thoriq untuk meyebarang ke Spanyol. Bantuan kapal-kapal dari Julian semakin menguatkan tafsir sejarah bahwa pembakaran pada kapal-kapal tersebut tidak pernah terjadi. Pendeta Opas yang merupakan sepupu Raja Watiza juga membantu ekspansi umat Islam. Pendeta Opas merasa benci pada Roderik yang merebut kuasa kerajaan dari Raja Watiza.[6]
Laju pasukan umat Islam terus menembus semakin jauh. Ketika Thoriq hampir mencapai Kota Jean, Cordova dan Toledo, Gubernur Musa bin Nusair memberi peringatan keras pada Thoriq agar tidak menyerbu dulu Toledo. Namun Thoriq memiliki perhitungan sendiri. Ia bergeming dengan keputusannya menyerbu Toledo dan bisa menaklukan kota itu. Tindakan Thoriq itu konon membuat Musa marah besar pada bawahannya tersebut. Musa setahun kemudian akhirnya menyusul Thoriq ke Andalusia dengan 10.000 bala tentara. Akan tetapi Musa melewati jalur yang berbeda. Jalau pasukan yang dipimpin Musa juga menaklukan banyak wilayah di kawasan Spanyol yang belum ditaklukkan Thoriq.
Di dekat Tholedo, Musa berhasil menemui tersebut. Dalam riwayat, Musa konon menghukum keras Thoriq. Thoriq dicambuk dan dirantai. Meja hidang (solomon table atau maidah) yang didapat oleh Thoriq dirampas Musa untuk dipersembahkan pada Khalifah Walid bin Abdul Malik. Dalam menafsirkan motivasi Musa menyusul Thoriq dan menemuinya, tidak semua sejarawan sepakat. Hitti dengan merujuk pada Ibnu Al Hakam dan Al Idrisi mengisahkan motivasi Musa menyusul ke Andalusia tidak lebih karena cemburu dan dengki pada kesuksesan Thoriq.[7]
Namun Roghib As Sirjani dengan mengutip Akhbar Al Majmu’ah karya Ibnu Adzari dan Al Bayan Al Mughrib menafsirkan bahwa Musa menyusul ke Spanyol untuk memberi bala bantuan kepada Thoriq.
Namun kita dapat memastikan bahwa semua itu sama sekali tidak pernah teradi adalah Musa bin Nushair memang menegur keras Thoriq atas pembangkangannya......Tetapi teguran itu berlangsung sangat cepat, dan kita sama sekali tidak ragu dengan terjadinya sebuah pertemuan yang hangat antara kedua pahlawan yang telah terpisah sejak dua tahun lamanya.[8]

Masih oleh As Sirjani, Musa bin Nushair digambarkan tokoh pahlawan besar. Seluruh hidupnya diabdikan untuk berjihad sampai pada usianya yang tua, yaitu 75 tahun. Dari kehebatannya, Islam berkembang pesat di Afrika Utara. Ia berjuang selama 10 tahun menyebarkan panji-panji Islam di Spanyol. Dengan mengendarai kuda secara gagah, ia menaklukkan kota demi kota, mengepung Sevilla berbulan-bulan lamanya, mengepung Mauridah, Barcelona, Zaragosa dan kawasan timur laut. Lalu ia mengarah ke barat laut bergerak menuju Ash Shakrah. Ia bermaksud menaklukkan Prancis, Italia dan negeri-negeri lain hingga sampai ke Konstatinopel.
Gambaran tentang Musa menjadi serba antagonis jika dilihat dari deskripsi kronik sejarah, semisal tulisan Isidore dari Sevilla yang mendasarkan pada rujukan penulis-penulis Visigoth. Musa adalah penginvasi yang kejam. Ia membakar kota-kota indah di Spanyol dan membumihanguskannya rata dengan tanah. Ia membawa para penguasa dan bangsawan Spanyol ke tiang salib. Tidak luput dari kekejaman itu, anak-anak remaja dan bayi ditebasi dengan pedang.
The chronicler wrote that Musa ibn Nusayr, who came to Sapin a year after Thoriq and assumed control of  the conquest, ruined beutiful cities, burning with fire: condemned lords and powerful men to the cross and butchered youth and infant with swords. [9]

Namun ada gambaran yang lebih netral dan dianggap lebih akurat adalah bahwa penaklukkan Spanyol oleh umat Islam itu manandai pergeseran situasi ekonomi dan politik baru. Pada masa-masa itu, kawasan itu dilanda krisis politik dan ekonomi yang menyengsarakan mayoritas penduduk kawasan itu. Kedatangan umat Islam adalah harapan baru bagi kemakmuran Spanyol.[10]
Meskipun sukses menaklukan Spanyol, Musa dan Thoriq akhirnya dipanggil pulang oleh Khlifah Walid bin Abdul Malik. Banyak tawanan perang yang terdiri dari pangeran dan bangsawan Spanyol, barang rampasan dibawa ke Damaskus sebagai penghormatan pada khalifah. Di Andalusia, Musa meninggalkan anaknya, Abdul Aziz bin Musa. Sejak saat itu, Andalusia menjadi provinsi (wulat) bagian dari Imperium Umayyah. Putra Musa itu menjadi amir pertama dan memilih Sevilla sebagai pusat administrasi Andalusia. Sejak saat itu, kekuasaan umat Islam di wilayah itu terus mengukuhkan kekuatan politiknya. Satu amir beganti dengan amir baru. Dinamika politik dan perebutan kekuasaan terjadi. Sampai pada masa Al Samah Ibnu Malik, amir ke-14, ibukota Sevilla dipindah ke Kordova. Kekuatan politik dan perebutan kekuasaan tetap berlangsung antara pihak Mudariayah dan Yamaniah. Sulit bagi kedua faksi itu untuk melakukan kompromi atau mencari jalan penyatuan.
Pergolakan politik di Andalusia baik karena pertikaian domestik maupun karena upaya meluaskan ekspansi ke luar terus berlangsung sampai akhirnya kekusaan Umayyah di Damaskus diruntuhkan oleh  Abasyiah. Pada saat Abasyiah berhasil merebut kekuasaan di pusat, seorang pangeran Muawiyah berhasil melarikan diri. Ia mencari suaka politik (asylum) di Andalusia dan berhasil mendarat di pantai Granada. Abdurrahman, namanya. Ia lolos dari sergapan pembunuhan prajurit tempur Abasyiah yang menggulingkan Dinasti Umayyah. Pembesar Abasyiah yang telah berhasil merebut kekuasaan Umayyah mengundang sisa-sisa bangsawan Umayyah dalam jamuan makan, termasuk Abdurrahman. Dalam jamuan makan itu, para bangsawan dan pengikut Umayyah dibantai. Tubuh yang sekarat dan menggelepar meregang nyawa ditutupi kain. Selamat bagi Abdurrahman, ia bisa lolos dari sergapan itu, ia melarikan diri dibantu pengikutnya. Adiknya tergoda dengan tawaran amnesti tidak meneruskan diri bereneng menyeberang sungai Eufrat. Nahas adiknya yang dijanjikan ampunan dibunuh juga oleh tentara Abasyiah[11].
Kedatangan Abdurrahman di Spanyol menandai babak kedua dari dinamika politik di kawasan itu. Babak kedua ini bisa disebut sebagai fase konsolidasi politik umat Islam di Spanyol dari tahun 756 M sampai 1031 M. Kekuasaan di tangan dinasti Abdurrahman disebut sebagai keamiran yang otonom, tetapi akhirnya, terutama pada masa Abdurrahman III, Andalusia menjadi kekhalifahan Umayyah yang sejajar dengan Dinasti Abasyiah.
Abdurrahman I menabalkan kekuasaan setelah memukul pasukan Gubernur Yusuf di Sungai Guadalquivir. Ia pun berhasil menguasai Kordova. Semenjak berada di tangan Abdurrahman I, Andalusia bukan lagi sebuah propinsi minor dalam wilayah kekuasaan Islam di Timur. Andalusia menjadi sebuah keamirin otonom secara administratif. Di Spanyol inilah, ia yang kemudian dikenal sebagai Abdurrahman I atau Abdurrahman Ad Dakhil, sang pendiri Dinasti Umayyah jilid kedua yang merdeka dan menjadi rival Dinasti Abasyiah di Iraq.
Sejumlah gejolak domestik, upaya pemberontakan dan gerakan perebutan kekuasaan atau provokasi dari Abasyiah bisa diatasi Abdurrahman I. Ia berhasil mengembangkan kekuatan militer dengan jumlah personil mencapai 40.000 prajurit untuk mengamankan kekuasaannya. Suksesi kekusaan diberikan secara turun temurun dengan cara penunjukan. Tercatat dalam silsilah ada delapan penguasa dari anak cucuk Abdurrahman I yang memerintah Spanyol. Di antara yang terkenal adalah Abdurrahman II dan Andurrahman III.
Abdurrahman I meninggal pada usia 59 tahun. Ia digantikan putranya Hisyam. Hisyam ditunjuk sebagai putra mahkota meskipun ia memiliki kakak bernama Sulaiman. Ia dianggap lebih cakap dari sang kakak. Begitu Hisyam diangkat menjadi penguasa, kakaknya Sulaiman memberontak dari Toledo. Tidak saja kakaknya, adiknya: Abdullah juga membangkang. Pemberontakan oleh dua saudaranya terjadi. Namun Hisyam berhasil mengalahkan dua pemberontak kakak dan adiknya. Dua saudaranya tersebut terusir ke Afrika Utara.[12]
Oleh Roger Collin, penujukkan itu dilakukan manasuka. Tradisi suksesi dengan penunjukan manasuka sudah acapakali terjadi dalam kekhalifahan Umayyah sebelumnya di Damaskus sebagimana Walid II mengantikan Hisyam adalah atas penujukan Yazid II. Tidak pelak, cara itu mudah menyulut kecemburuan antarsaudara. Alasan bahwa Hisyam lebih cakap daripada Sulaiman atau Abdullah itu hanya rasionalisasi saja.[13]
Hisyam bin Abdurrahman kemudian diganti putranya Al Hakam bin Hisyam. Sayang sekali, tabiat Al Hakam yang peminum dan suka pesta tidak disukai warga dan ulama. Didalangi oleh pemuka agama, terjadi kerusuhan. Kerusuhan itu ditumpas dengan keji. Mereka dibuang, daerah dan rumah mereka diratakan dengan tanah. Sebanyak 300 pemuka agama dibunuh. Cara-cara memerintah Al Hakam berikut tabiatnya memicu kebencian penduduk padanya.[14]
Al Hakam kemudian diganti putranya, Abdurrahman II atau Abdurrahman Al Awsath. Ia adalah penguasa yang cakap. Ia melanjutkan visi Abdurrahman I membangun kemajuan kekuasaanya. Ia melanjutkan proyek mengamankan daerah-daerah yang sering dijarah gerombolan pengacau yang berasal dari luar. Ia berhasil membangun armada laut untuk menguasai kepulauan Balyar dan memukul orang-orang Viking, semacam gerombolan perompak dari Skandinavia: Denmark, Finlandia, dan Swedia. Seperti kakeknya Abdurrahman I, ia terkenal sebagi pecinta ilmu dan estetika.[15]
Abdurrahman II meninggalkan warisan kejayaan Andalusia. Namun kejayaan itu segera merosot seiring dengan konflik domestik, persaingan anggota keluarga merebutkan kekusaan dan kontelasi politik di berbagai kawasan yang ikut memperkeruh suasana geopolitik. Kerajaan Leon di barat laut Kordova dan Aragon yang beribukota di Barcelona semakin kuat. Di dalam keluarga istana sendiri, putra mahkota yaitu Abdullah dibunuh oleh saudaranya sendiri keponakannya Al Mutarif bin Abdullah. Sementara di kawasan Afrika atau Maroko atau Al Maghrib dan sekitarnya Daulah Fatimiyah semakin kokoh menguasai kawasan tersebut. Daulah Fatimiayah merupakan ancaman serius bagi kedaulatan penguasa di Andalusia.
Ketika wilayah kekuasaan Diasti Umayyah Andalusia menyusut drastis, muncullah pemimpin baru yang menisbatkan namanya dengan Abdurrahman III atau Abdurrahman An Nashir.  Di masa kekuasaan Adurrahman III, Andalusia mengukuhkan kekuatan politiknya di kawasan itu. Abdurrahaman III selain dapat mengokohkan posisi tawarnya pada penguasa Dinasti Fatimiyah di Afrika, ia berhasil memukul pasukan Ordano II dan Sancho yang mengancam wilayah Andalusia dari sisi utara. Kekuasaannya membentang dari wilayah Ebro sampai garis pantai Atlantik. Dari Pegunungan Pyrenees sampai Selat Gibraltar. Pada masanya pula, dibangun sebuah kota istana atas saran istri simpanannya yang jelita bernama Az Zahra. Nama istri simpanannya itu pula yang menjadi nama istana Az Azahra. Di bawah kuasa Abdurrahman III, Andalusia mencapai puncak kejayaannya. Sampai usia 73 tahun akhirnya ia meninggal dunia. [16]
Sepeninggal Abdurrahman III, Andalusia masih menyisakan kejayaan. Silih berganti penguasa pasca Abdurrahma mempertahankan Daulah Umayyah yang kemudian berganti mejadi Daulah Amiriyah naik dan turun ke pentas kekuasaan. Namun pertikaian dan perebutan kekuasaan dalam tubuh dinasti itu dengan pasti membuat Andalusia mengalami fragmentasi menjadi negara-negara kerajaan kecil (thowa>if). Tercatat ada tujuh negara kerajaan yang mengoyak kawasan Andalusia. Mereka terbentuk karena ikatan primordialisme kesukuan dan klan keluarga : 1) Bani Abad, kalangan Arab dari suku Lakhm menabalkan diri di Sevilla. 2) Bani Zirry meduduki wilayah Granada. 3) Bani Jahur kalangan yang mengambil wilayah Kordova. 4) Bani Al Afthas menguasai wilayah barat Andalusia mendirikan pemerintah Bathalyus. 5) Bani Dzun-Nun, kalangan Berber yang mendirikan wilayah Toledo. 6) Bani Amir, kalangan Arab dari suku Ma’arifi dari Yaman menguasai kawasan timur Andalusia: Valencia. 7) Bani Hud menguasai wilayah Zaragosa.[17]
Antarmereka seringkali terjadi konflik dan perang merebut kekusaan dan saling mencaplok wilayah. Tidak ada lagi Andalusia raya dalam satu kekuasaan. Jatuh bangun kekusaan secara silih berganti di antaranya akibat pertikaian antarnegara kerajaan. Berdiri Dinasti Murabitun lalu segera jatuh dan digantikan Bani Muwahiddun. Jatuh Bani Muwahhidun dan drngan terseok beridiri Dinasti Nashiriah yang menduduki Granada. Salah satu penguasanya, yaitu Muhammad Al Ghalib membangun Al Hambra. Granada ternyata menjadi garis akhir nasib kekuasaan umat Islam di Spanyol. Pernikahan Ferdinand dari Aragon dan Isabella dari Castile semakin menyaringkan bunyi lonceng kematian kekuasaan umat Islam. Kalau saja, di masa kekuasaan Abdurrahman III, ekspansi militer diteruskan untuk memukul telak sisa-sisa orang Kristen di pegunungan Pyreness, cerita Spanyol hari ini mungkin akan jauh berbeda.
Di kepung pasukan berkuda dengan jumlah 10.000 personel dan tidak ada tanda-tanda bala bantuan datang dari Afrika maupun Turki, akhirnya Granada jatuh juga sebagai tanda runtuhnya kekuasaan umat Islam di Spanyol. Bulan sabit benat-benar telah digantikan oleh salib. Proyek conquest yang dirintis Thariq dan Musa diganti dengan Reconquesta Ferdinand Isabella. Setelah itulah kekejian pada sipil non Kristen Spanyol bermula. Ferdinand dan Isabella melakukan inkuisisi: geneocida. Pengusiran besar-besaran dilakukan. Masyarakat yang membangkan dihabisi. Granada menjadi lautan api yang membakar sisa-sisa kekuasaan umat Islam Spanyol. Sebuah peristiwa tragis nan masif yang tidak pernah terjadi selama kekuasaan muslim di Spanyol. Kekejaman yang mungkin bisa disetarakan dengan Holocoust dan genocida Serbia pada Bosnia. Tentang kekejaman Dewan Ingkuisisi Spanyol pada umat Islam dan Yahudi, catatan Kolonel Prancis J.J. Lehmanowsky yang diutus Napoleon untuk menguasai Spanyol memberi kesaksian sisa-sisa pembantaian keji itu.[18]
Demikian dalam pemabahasan ekspansi umat islam di spanyol yang peninggalannya sampai terlihat hingga saat ini. dan tentunya merupakan kebanggaan sejarah bagi umat islam yang mengetahui akan kebesaran peradaban umat islam di spanyol




[1] Philip K. Hitti, History of Arabs, (Jakarta: Serambi, 2011), 627.
[2] Roghib As Sirjani,  Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 64.
[3] Abdul Fatah Shobri dan Ali Umar, Qiroah Ar Roshi>dah,  jus keempat (Mesir: Da>r Makrifa>t 1948), 7-9.
[4] Susan McIntire dan Willian Burn, Speeches in The World History (New York: Imprint of Infobase Publishing, 2008) 85.
[5] Roghib As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 64.
[6] Philip K. Hitti, The History of Arab, 620.
[7] Philip K. Hitti, The History of Arabs, 630.
[8] Roghip As Sarjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 80.
[9] Kenneth Baxter Wolf, Conquerors and Chroniclers of Early Medival Spain, second edition (Liverpool University Press,  1999), 50.
[10] Fairchid Ruggles, Garden, Landscape & Vision in The Palace of Islamic Spain, (Pannsylvania State University Press,  2003), 4-5
[11] Maria Rosa Menocal, Sepotong Surga di Andalusia, 8
[12]  Roghip As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 191.
[13] Roger Collins, The Arab Conquest of Spain 710-797 (Blackwell Publishers, 1989), 201.
[14] Ibid., 195.
[15] Roghib As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 199.
[16] Philip K. Hitti, The History of Arabs, 666.
[17] Roghib As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 372.
[18] Ibid, 828.

wdcfawqafwef